Kisah Dewasa MENGEJAR SHINKANSEN – Part 22

Kisah Dewasa MENGEJAR SHINKANSEN – Part 22by on.Kisah Dewasa MENGEJAR SHINKANSEN – Part 22MENGEJAR SHINKANSEN – Part 22 Mengejar Shinkansen Aku mungkin harus berterima kasih kepada orang-orang anggota komunitas otaku yang ada di Jepang. Mereka menolongku. Seharian mereka mencari-cari keberadaan Keiko-chan. Mungkin memang kesalahanku sehingga aku harus menderita seperti ini. Untuk sementara aku tinggal di rumah Eiji-san. Rumahnya ada di Ikebukuro. Aku pun mendapatkan ijin untuk bisa tinggal […]

multixnxx-Black hair, Asian, Jeans, Kitchen, Girl, C-13 multixnxx-Black hair, Asian, Panties, Girl, Shaved, -0MENGEJAR SHINKANSEN – Part 22

Mengejar Shinkansen
Aku mungkin harus berterima kasih kepada orang-orang anggota komunitas otaku yang ada di Jepang. Mereka menolongku. Seharian mereka mencari-cari keberadaan Keiko-chan. Mungkin memang kesalahanku sehingga aku harus menderita seperti ini. Untuk sementara aku tinggal di rumah Eiji-san. Rumahnya ada di Ikebukuro. Aku pun mendapatkan ijin untuk bisa tinggal sementara di sana. Rumahnya sederhana tidak mewah, untuk masuk ke rumahnya kita harus naik karena lantai satu dipakai oleh keluarga lain. Boleh dibilang ini rumah ngontrak.

Kamu cukup lancar berbahasa Jepang ya Fahmi-san, kata Eiji.

Begitulah, ujarku.

Kami berdua menyiapkan sarapan. Terus terang aku juga merasa tak enak kalau numpang di rumah orang tapi tidak melakukan apapun. Eiji-san selalu menolak tapi aku bersikeras membantunya. Paling tidak ilmu memasakku bisa aku terapkan di sini. Ia cukup terkejut ketika aku bisa memasak. Bahkan hasil kreasi masakanku sempat membuatnya heran. Aku sudah bangun pagi-pagi tadi, sudah mandi dan sudah beribadah. Setelah berjibaku di dapur akhirnya kami pun sudah berada di meja makan.

Aku tak pernah menyangka kamu bisa memasak Fahmi-san, kata Eiji.

Hahaha, biasa saja. Fujiwara-san juga suka kepadaku salah satunya karena aku bisa memasak, kataku.

Tapi jujur, memang aku setuju kebanyakan cewek lebih suka ama cowok yang bisa memasak. Makanya banyak chef yang punya istri cantik-cantik.

Wah, Eiji-san. Jangan-jangan kamu juga ingin jadi chef?

Hahahaha, memang sih. Aku ingin bisa jadi chef. Ni-san suka dengan masakanku, bahkan teman-temannya juga memuji masakanku.

Pagi itu kami hangatkan suasana sambil berbicara tentang cita-cita Eiji. Eiji bicara banyak tentang keseharian dirinya, bahkan untuk beberapa saat kami tidak membahas tentang Keiko-chan terlebih dulu. Sampai setelah selesai sarapan, Eiji tiba-tiba memberikan kabar yang mengejutkan.

Kita sudah tahu siapa yang membawa dompetmu, Fahmi-san, katanya.

Hontou?

Dia sekarang sedang berada di kantor polisi. Kamu mau ikut?

Iyalah!

* * mengejar shinkansen * *
Masih menggunakan JR Pass, aku bisa menaiki kereta Yamanote Line secara gratis untuk menuju ke Shibuya. Di Shibuya kami langsung menuju ke kantor polisi di mana Ando-san, kakaknya Eiji-san bekerja. Hari ini sibuk. Aku bisa melihat orang-orang berlalu lalang di trotoar maupun stasiun. Jarang sekali aku melihat kendaraan pribadi yang melintas di jalan raya.

Dari Ikebukuro, berjejal di dalam kereta listrik monorail hingga akhirnya kembali ke Shibuya. Di sini aku kembali menemui Ando-san. Kantor polisi itu ada yang berbeda. Ada seseorang yang berada di sana. Kami tak kenal dengan orang itu.

Dare? tanya Eiji kepada kakaknya.

Dia bernama Enba, jawab Ando-san.

Enba? gumamku.

Iya, dia yang mencopet dompetnya Fahmi-san kemarin. Sekarang dia mengembalikannya, kata Ando-san.

Ah, Fahmi-san. Gomenasai! tiba-tiba orang yang disebut Enba ini membungkuk bahkan sampai bersujud. Artinya ia sangat bersalah dan meminta maaf yang sedalam-dalamnya. Enba ini masih muda, mungkin usianya sekitar belasan tahun. Apa yang mendasarinya melakukan hal itu?

Memangnya kenapa engkau melakukan hal itu? tanyaku.

Akan aku ceritakan. Sebenarnya aku kemarin butuh uang untuk obat haha. Sedangkan kami tak punya uang. Haha sedang sakit, dia butuh obat. Aku berdo’a di Kuil Meiji saat itu untuk kesembuhan ibuku. Saat itu secara tak sengaja aku melihat Fahmi-san yang dompetnya tampak menyembul dari celananya. Saat itulah aku berpikir bahwa ini kesempatanku untuk mencopet dompet itu. Akhirnya aku mencurinya.

Setelah itu aku membeli obat, memang aku sudah dapatkan obat itu. Namun setelah itu aku jadi bersalah. Aku mengikuti komunitas otaku. Setelah aku melihat di group bahwa ada seorang otaku yang terdampar di Jepang ini dengan nama Fahmi. Aku pun penasaran melihat isi dompet yang aku curi, ternyata itu dompet adalah milik Fahmi-san. Ada fotonya di sana, juga ada foto gadis yang bernama Fujiwara Keiko-san. Jadi…aku yakin telah mencuri dari Fahmi-san. Kedua foto itu aku lihat di situs Fan Page otaku. Mohon maaf Fahmi-san. Begitu tahu cerita tentang dirimu aku segera datang ke kantor polisi ini untuk mengembalikan dompetnya, tapi maaf uangnya sudah aku pakai sebagian. Aku tidak mencuri kecuali dalam keadaan terpaksa. Sekali lagi maafkan aku, dan aku bersedia menerima hukuman, jelas Enba dengan gamblang.

Ando-san kemudian menghampiriku sambil menyerahkan dompet yang dicuri oleh Enba. Aku menerima dompetku. Kuperiksa isinya. Uangku sudah berkurang beberapa tapi masih cukuplah untuk survive di Jepang. Akhirnya aku bersyukur sekali dompetku bisa kembali. Dan karena mendengar cerita Enba, aku pun jadi sedikit kasihan kepadanya.

Enba-san, kamu tak perlu seperti itu. Setidaknya tak perlu meminta maaf. Aku memaafkanmu, anggap saja aku menolongmu hari ini, kataku.

Hontou-ni?

Aku mengangguk. Enba pun langsung memelukku, ]Arigatou Fahmi-san, Arigatou! Orang Indonesia memang baik, orang Indonesia sungguh baik.

Aku senang sekali bahwa Enba-san sekarang bisa terbantu.

Baiklah. Kalau begitu, kasus ini selesai, ujar Ando-san.

Aku tidak ditangkap? tanya Enba-san.

Kalau kamu berjanji tidak mencuri lagi, maka aku akan lepaskan, jawab Ando-san.

Arigatou. Minna, jawab Enba dengan mata berkaca-kaca.

Aku menghela nafas lega. Paling tidak satu persoalanku selesai. Semoga saja seperti ini terus-menerus. Sekarang kita tinggal menunggu kabar, kalau ada yang tahu alamat Keiko-chan. Terus terang hal ini membuatku sedikit pusing, apalagi aku khawatir kalau-kalau ayah dan ibuku tahu tentang kebohonganku.

Nah, Fahmi-san. Sekarang sebaiknya kita kembali mencari dimana rumah Keiko-chan, ujar Eiji.

Iya, memang seharusnya demikian, kataku. Waktuku juga tidak banyak.

Soal itu…., Enba bersuara.

Ada apa?

Aku sepertinya pernah tahu Keiko-chan.

Heeeeeehh??? kami semua terkejut.

Di mana? Di mana? tanyaku antusias.

Ayo aku antarkan! Aku dulu pernah menjadi bekerja di restoran mie dan jadi pengantar pesanan. Dan aku tak akan lupa kepada seorang cewek yang memberiku tip yang lumayan banyak. Tapi sepertinya sudah lama hal itu berlansung. Tapi aku yakin tidak akan pernah melupakan wajahnya. Ketika melihat videomu dan melihat foto Fujiwara-san, aku yakin itu pasti gadis itu. Aku tahu di mana rumahnya! jelas Enba.

Tunggu apalagi? Ayo kita ke rumahnya! kataku.

Hei, apa harus sefrontal itu? Bagaimana kalau Keiko-chan kaget atau bagaimana? Kamu tentunya tak ingin menyusahkannya bukan? tanya Eiji.

Aku tak peduli, karena aku ada di sini untuk bertemu dengan dirinya! ujarku. Segera saja aku menarik tangan Enba. Ando-san, terima kasih. Ja-na!

Aku, Enba dan Eiji berlari-lari menuju ke Shinjuku. Perasaanku saat ini sangat bahagia, akhirnya pencarianku di Jepang ini tidak sia-sia. Kami akan bertemu lagi. Keiko-chan, kita akan bertemu lagi. Aku sangat merindukannya sekarang, aku tak peduli apa yang akan dia katakan. Aku akan peluk Keiko-chan, aku akan memeluknya. Aku tak peduli seberapa marah ia kepadaku nanti. Keiko-chan, aku sangat mencintaimu.

Ketika sampai di Yamanote Line aku pun tak pernah diam. Aku selalu bergerak, rasanya tubuhku tidak sabar ingin bertemu dengan Keiko-chan. Hal ini bisa dirasakan oleh Eiji dan Enba. Eiji menepuk-nepuk pundakku.

Tenanglah, kita pasti akan bertemu dengan Fujiwara-san, katanya.

Iya, kataku. Aku sedikit lebih tenang sekarang. Kuhirup nafas dalam-dalam di antara desakan para penumpang yang ada di Yamanote Line.

Segera setelah pintu monorail terbuka aku langsung keluar. Kuikuti langkah Enba keluar dari stasiun kemudian sampai di Shinjuku Exit. Dari Shinjuku Exit kami pun melewati sebuah jalan dan gang-gang hingga sampai juga di sebuah rumah dengan sedikit pekarangan. Apakah ini rumah Keiko-chan?? Keraguanku pun langsung hilang ketika melihat papan nama di temboknya. Orang Jepang biasanya memajang nama keluarga di pagar rumahnya. Dan di sana tertulis dengan huruf kanji dengan jelas yang berbunyi Fujiwara.

Benar, ini rumah keluarga Fujiwara, ujar Eiji.

Aku masih ragu untuk masuk ke halaman rumahnya, karena sepertinya tak ada orang.

Yakin ini rumahnya? tanyaku ke Enba.

Iya, aku yakin! jawab Enba.

Aku pun maju perlahan-lahan ke depan pagar rumahnya. Digembok? Iya digembok. Aku mencoba untuk membunyikan bel rumah. Tapi tak ada respon. Aku sudah menunggu beberapa saat hingga akhirnya aku mengangkat bahuku.

Sepertinya orangnya tidak ada di rumah, kataku.

Ada seseorang yang melongok ke arah kami. Dia sepertinya tetangganya Keiko-chan.

Ano, kalian cari siapa? tanya orang itu.

Apakah benar ini rumah Fujiwara Keiko-san? tanyaku kepadanya.

Ah, kamu benar sekali. Apakah kalian temannya? tanyanya.

Iya, kami temannya, jawabku.

Ah, sayang sekali. Tadi pagi dia beserta orang tuanya pergi. Adiknya masih keluar, kata ibu-ibu tetangganya Keiko-chan. Syukurlah aku yakin ini rumah Fujiwara Keiko-chan. Aku kemudian mengambil ponselku dan menunjukkan foto Keiko-chan.

Apakah Fujiwara Keiko-chan yang ini? tanyaku sambil menunjukkan foto Keiko-chan.

Ibu-ibu itu mengangguk dengan mantab. Iya, ini Fujiwara-san.

Syukurlah, trus mereka pergi ke mana? tanyaku.

Sepertinya mereka akan mengantarkan Fujiwara-san ke Hiroshima, jawabnya.

Hiroshima??? kami terkejut serempak.

Hiroshima? Oh iya, Keiko-chan pasti akan kembali masuk kuliah. Ini tidak bagus. Perjalanan dari Tokyo ke Hiroshima sangat jauh, menghabiskan waktu seharian. Aku tak mungkin ke sana. Tapi aku masih punya JR Pass. Kebetulan juga sih tujuannya JR Pass West. Artinya aku bisa mengunjungi Hiroshima dengan naik Shinkansen ke sana.

Ini tidak bagus, kataku.

Kita sudah sejauh ini, keluh Eiji.

Kapan mereka pergi? tanya Enba.

Mereka pergi pagi-pagi sekali tadi, jawab ibu-ibu itu.

Anda tahu mereka akan naik apa ke Hiroshima? Pesawat? Shinkansen? tanyaku.

Shinkansen, semua orang Jepang bakal naik Shinkansen anak muda. Buat apa harus ke bandara? Dengan Shinkansen lebih murah dan sama cepatnya.

Eiji, kamu tahu di mana stasiun tempat Shinkansen berada? tanyaku.

Di Shinagawa, katanya.

Kamu tahu rute ke sana? tanyaku.

Tentu saja! jawabnya.

Ayo! Kita diburu waktu! Arigatou Ka-san! kataku sambil membungkuk ke ibu-ibu tadi.

Hati-hati kalian! katanya.

Eiji, Enba dan aku berjalan pergi. Selama perjalanan Eiji tampak sibuk dengan ponselnya. Wajahnya kelihatan sedikit sumringah. Apakah ada kabar baik?

Sepertinya ada kabar baik, kata Eiji. Coba baca ini!

Aku menerima ponselnya Eiji. Aku membaca email. Dari Keiko-chan!

From: [email][email protected]
/* */[/email]

From: [email protected]
/* */
Fahmi-kun tolong tunggu aku disana…

Fujiwara Keiko.
Whoa! seruku. Ini beneran?

Aku menceritakan peristiwa yang kita alami ketika sampai di rumah Fujiwara-san. Dan rumahnya tertutup. Kemudian salah satu dari rekan komunitas otaku bernama Madoka-san. Madoka-san yang bertemu dengan dia. Sekarang dia sedang berada di Yamanote Line menuju Shinagawa, ujar Eiji. Madoka mengatakan kalau Keiko-chan sekarang ada di Yamanote Line. Dia sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke Hiroshima. Dia ingin pulang kembali.

Trus? Tunggu apalagi? Kita ke sana sekarang! kataku.

Sebentar, paling tidak kamu balas emailnya dulu! ujar Eiji.

Baiklah! kataku. Aku pun membalas email Keiko-chan.

to: [email protected]
/* */

Keiko-chan, syukurlah… aku hampir gila saat tidak menemukanmu dimana-pun. Bahkan rumahmu tertutup rapat saat aku ke sana kumohon aku ingin bertemu denganmu. Madoka-san sudah menceritakan semuanya. Kau tidak perlu pulang menemuiku, jangan biarkan orang tuamu membenciku karena membuatmu tidak menuruti mereka. Biarkan aku yang datang, aku akan mengejarmu. Tunggu aku.

Sudah! kataku.

Bagus! jawab Eiji. Kami pun berjalan lagi menuju stasiun Shinjuku. Namun beberapa saat setelah kami berjalan Eiji berhenti.

Ada apa lagi? tanyaku.

Ada pesan dari Fujiwara-san, katanya.

Apa pesannya? tanyaku.

Kembali aku membaca email dari Keiko-chan.

From: [email][email protected]
/* */[/email]

From: [email protected]
/* */
Fahmi-kun, aku ada di Shinagawa menunggu Shinkansen berangkat ke Hiroshima. Aku akan menunggu semampuku sampai Shinkansen berangkat. Sebab Shinkansen tak bisa ditunda keberangkatannya. Cepatlah!

Wah, ini nggak bagus. Ayo! seru Eiji.

Aku, Eiji dan Enba segera berlari lagi. Kini kami akan kembali ke Shinjuku station. Sejujurnya aku bosan juga sih kembali lagi ke stasiun ini. Bagaimana tidak? Stasiun kereta yang paling sibuk di dunia dengan tiga juta lebih penumpang setiap harinya. Seperti hari ini misalnya. Aku kembali lagi melihat kumpulan manusia di stasiun ini. Manusia dari berbagai kalangan dari berbagai urusan. Kalau di Indonesia biasanya stasiun kereta itu akan penuh hanya pada momen mudik saja, di Jepang, momen mudik itu bisa dilihat hampir tiap hari.

Di Jepang sendiri khususnya Tokyo masih banyak petunjuk dengan huruf alphabet. Jadi misalnya papan penunjuk yang ada di Shinjuku Station ini. Ketika kita akan pergi ke Harajuku, Shibuya atau pun ke Shinagawa misalnya, akan ada petunjuk dengan huruf alphabet yang bisa dimengerti oleh orang di luar Jepang dengan di atasnya ada huruf kanji. Kalau sudah keluar dari Tokyo, maka akan sangat jarang sekali tulisan dengan huruf alphabet. Keunikan lain dari stasiun Shinjuku ini adalah stasiun ini langsung terhubung ke kantor-kantor tempat orang-orang bekerja, sehingga akan memudahkan akses mereka setiap pulang pergi kantor. Dan ya memang, ini adalah stasiun kereta terpanjang yang pernah ada di Jepang, mungkin juga di dunia.

Kami pun akhirnya masuk lagi ke monorail Yamanote Line. Kali ini tujuannya ke Shinagawa Station. Kami berdiri di dalam kereta, karena memang tak dapat tempat duduk. Cara berdiri ini sebenarnya tidak terlalu nyaman, apalagi aku membawa ransel. Jadi seolah-olah badanku tergencet di antara para penumpang lainnya. Selama kurang lebih lima belas menit lamanya kami berada di dalam kereta. Monorail Yamanote dari Shinjuku berhenti di Shibuya, setelah itu meneruskan perjalanan selama beberapa saat ke Shinagawa Station.

Di mana? gumamku sambil menoleh kiri kanan.

Eiji dan Enba juga mencari kiri kanan. Tak ada tanda-tanda atau batang hidung Keiko-chan. Saat itulah notifikasi ponsel Eiji berbunyi. Dia membacanya.

Email, dari Keiko-chan, ujarnya. Aku pun ikut membacanya.

From: [email][email protected]
/* */[/email]

From: [email protected]
/* */
Fahmi-kun, kalian lama. Aku sudah menunggu bermenit-menit. Saat ini aku sudah masuk ke shinkansen menuju Nagoya. Kata oka-san dan oto-san kami akan mengunjungi saudara kami di Nagoya sebentar jadi kami akan mampir dulu di sana. Aku akan menunggumu di Nagoya.
Nagoya? gumamku.

Ah, kalau kamu menuju Hiroshima, kamu akan melewati Nagoya. Kalau kereta yang dipakai oleh Fujiwara-san adalah tipe kodama maka pasti akan berhenti di beberapa stasiun untuk kemudian jalan lagi, tapi kalau memakai kelas nozomi sudah dipastikan tak ada yang namanya berhenti-berhenti. Untuk JR Pass tak mungkin memakai nozomi. Yang pasti hanya memakai tipe kodama, jelas Eiji.

Oh, begitu yah, gumamku.

Ini, bawa ponselku! kata Eiji.

Huh? Nggak apa-apa? tanyaku.

Aku tahu ponselmu tak bisa digunakan di sini. Aku meminjamkannya agar kamu bisa menggunakannya selama di sini. Tapi kembalikan nanti ya! kata Eiji.

Arigatou, kataku. Kuterima ponsel milik Eiji.

Ganbate Fahmi-san! katanya.

Hai, ganbate! sambut Enba.

Aku menggenggam kartu JR Pass milikku. Sebenarnya aku bisa saja memilih untuk jalan-jalan di Nagoya yang memang terkenal dengan museum-museumnya. Boleh dibilang Nagoya adalah tempat yang sangat banyak museumnya. Seperti Tokugawa Art, Railway Park, Toyoya Commemorative Museum, ataupun Nagoya City Science Museum. Di sana juga ada Aquarium yang terkenal. Argh… tapi aku ke sini bukan untuk berwisata.

Aku pergi. Itemikasu! kataku. Aku membungkuk kepada Eiji dan Enba. Arigatou minna!

Doutamashite! jawab Eiji.

Kemudian aku masuk dan melintasi pemeriksaan tiket. Sesekali aku melihat ke arah Eiji dan Enba yang sudah menolongku sejauh ini. Aku melihat di mana kereta shinkansen yang harus aku naiki di papan petunjuk. Begitu melihatnya aku langsung membaca tujuannya:

NOZOMI 251 10:20 Shin-Osaka – Non – Reserved Car no. 1-3

KODAMA 679 10:26 Nagoya Non – Reserved Car no. 13-15

NOZOMI 119 10:30 Hiroshima Non Reserved Car no. 1-3

HIKARI 525 10:33 Shin-Osaka Non Reserved Car no. 13-15

Aku sudah tahu kereta mana yang harus aku pakai. Aku pun berlari menuju jalur tempat di mana aku bisa menemukan kereta shinkansen kodama. Tulisan Kodama bisa aku lihat di badan Shinkansen yang sekarang ini akan berangkat. Sekarang jam 10:15 waktu Tokyo. Seorang petugas memeriksa JR Pass milikku kemudian memberitahu di mana tempatku duduk, dia menandainya aku bisa melihat sebuah nomor duduk di tiket JR Passku. Sebentar lagi pasti kereta akan berangkat. Aku buru-buru berlari memasuki kereta shinkansen. Begitu masuk suasana yang aku rasakan sangat berbeda. Kereta badannya besar, bersih dan tentu saja nyaman. Aku mencocokkan tempat di mana aku duduk.

Dadaku sekarang ini berdebar-debar. Bagaimana tidak? Aku sangat excited selain karena pertama kali naik Shinkansen, aku akan bertemu dengan Keiko-chan di Nagoya. Dari pengeras suara informasi aku bisa mendengar suara bahwa kereta akan segera berangkat. Tepat pukul 10:26. Jepang memang terkenal dengan tepat waktunya sehingga aku sekarang merasakan bagaimana shinkansen ini melaju. Rasanya smooth. Kalau di Indonesia yang kereta apinya memakai diesel, akan terasa hentakan ketika melewati rel, tapi ini sama sekali nggak. Seperti naik elevator tapi bergerak horizontal.

Aku kemudian mencoba menghubungi Keiko lagi. Tapi kali ini memakai emailku.

To: [email][email protected]
/* */[/email]
To: [email protected]
/* */
Keiko-chan, kamu sudah ada di mana? Aku sekarang naik shinkansen kodama ke sana.

Sekali lagi aku menunggu emailnya. Aku bisa melihat dari jendela bagaimana suasana negara Jepang ini. Jalur yang ditempuh oleh Shinkansen ini benar-benar steril. Pantas saja shinkansen tidak pernah ada pun kecelakaan seperti menabrak mobil atau manusia. Dalam recordnya shinkansen setiap tahu selalu zero accident. Artinya tak pernah ada kecelakaan tentang Shinkansen.

Dengan ponsel milik Eiji aku bisa mengakses internet. Aku kemudian masuk ke beberapa akun milikku. Saat itulah aku bisa mengakses akun skype milikku. Ternyata berkali-kali Mbak Nurul menghubungiku. Aku segera menelponnya dengan Skype semoga saja ia menjawab. Dan ternyata tak lama kemudian Mbak Nurul menjawabnya.

Mi!? Mi!? Kamu denger nggak? tanya mbak Nurul.

Iya, gimana? tanyaku.

Gagal, gagal! katanya.

Hah? Maksudnya?

Ayah ama bunda nyusul kamu ke Jepang!

Hah?! tentu saja aku terkejut.

Iya, sekarang mereka sudah mendarat. Kamu kemana aja sih? Dihubungi susah banget?!

Sorry mbak, banyak hal yang aku lewati di sini. Mulai dari kecopetan, tidur di emperan toko, tidur di kantor polisi, ketemu ama komunitas otaku. Banyak deh, kataku bercerita singkat.

Trus? Ketemu ama Keiko?

Belum, ini sedang naik shinkansen menyusulnya.

Duh! Mi, aku khawatir banget ama kamu. Oh ya, tetep online yah. Ntar ayah ama bunda menghubungi kamu lewat akun skypemu! Awas kalau sampai ditutup! Tetep kabari aku!

Iya, iya.

Semoga kalian berdua cepet ketemu dan oh ya, kayaknya ayah sangat marah ama kamu. Marah banget, aku nggak pernah melihat beliau semarah itu, Mbak Nurul nada bicaranya berubah. Nada bicaranya datar. Ayah marah. Aku tahu bagaimana kalau beliau marah.

Maaf ya, aku udah nyusahin mbak, kataku lesu.

Sudah, yang penting segera temukan Keiko dan pulang! Kamu itu adikku satu-satunya!

Iya deh mbak, iya!

Fahmi! Hati-hati! kata-kata terakhir Mbak Nurul.

Ayah dan ibu sudah ada di Jepang? Ah, rasanya perjalanan ini sebentar lagi bakal berakhir. Shinkansen ini terus berjalan, aku tak tahu sampai di mana sekarang ini kalau aku tidak perhatikan dengan benar nama stasiun tempat shinkansen berhenti mungkin aku akan melewatkannya.

Untuk sampai di Nagoya aku melewati Fuji. Tentu semuanya tahu bagaimana apa yang terkenal di Fuji, yap Gunung Fuji. Gunung Fuji bisa terlihat dari jendela tempat aku duduk. Gunung itu bediri kokoh dengan warna putih di puncaknya. Ya, puncak itu adalah salju yang ada di sana. Katanya kalau ke Jepang tapi tidak sempat mendaki Gunung Fuji maka akan terasa kurang. Tapi aku lebih baik bertemu Keiko-chan daripada harus naik ke sana. Setelah kurang lebih satu jam duduk aku pun sampai di Nagoya. Shinkansen Kodama telah sampai di Nagoya.

Begitu sampai aku langsung keluar dan memeriksa ponselku. Kubaca email dari keiko-chan.

From: [email][email protected]
/* */[/email]
From: [email protected]
/* */
Fahmi-kun, gomene. Aku harus kembali lagi ke Tokyo. Aku sudah menunggumu selama setengah jam di Nagoya. Mungkin Shinkansen jedanya 20 menit, jadi aku merasa maklum kamu terlambat. Kembalilah ke Tokyo. Tunggu aku di Menara Tokyo. Sekali lagi, gomene.

Wha? What?? Kembali ke Tokyo? Yang benar saja! Aku baru saja tiba di Nagoya, baru saja keluar dari Shinkansen! Dari stasiun Nagoya ini aku segera menuju ke papan pengumuman untuk melihat jadwal Shinkansen kembali ke Tokyo. Dari sini ternyata aku cukup beruntung ada kereta yang akan berangkat lagi sekitar dua puluh menit lagi. Aku segera pergi ke jalur tempat di mana kereta itu berangkat. Petugas stasiun kembali memeriksa tiketku dan menandai JR Pass-ku. Kembali aku duduk di dalam shinkansen. Kali ini aku naik Shinkansen Hikari.

Singkat cerita aku duduk lagi, termenung. Untuk setengah jam dari Nagoya ke Tokyo kembali aku akan menikmati perjalanan. Gunung Fuji pun kembali aku lihat. Ia serasa menemaniku selama perjalanan ini. Kembali wajah Keiko-chan terbayang-bayang. Aku sekarang ini sangat merindukan dia. Aku masih teringat terakhir kali kita berada di pantai ketika melihat femonena Greenflash. Aku merasa kebersamaanku dengan Keiko-chan seperti Greenflash itu kalau sampai aku tidak bertemu dengan Keiko-chan. Sebentar. Ah tidak, aku tidak ingin. Aku ingin bersama dengan Keiko-chan.

Setelah satu jam lamanya, Shinkansen pun tiba di Tokyo. Aku menghela nafas, perutku mulai lapar. Kemudian aku keluar, berjalan keluar dari stasiun. Dari Tokyo Exit, aku kemudian berjalan pergi menuju ke menara Tokyo yang bisa aku lihat dari tempat aku keluar dari stasiun. Tak ada cara lain selain berjalan menuju ke sana.

Sekali lagi aku ada di Tokyo. Rute menuju ke menara Tokyo tidak begitu sulit, karena petunjuk jalan di sini sungguh bersahabat. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore ketika aku sampai di menara ini. Menara yang menjadi kebanggaan kota Tokyo bahkan penduduk Jepang ini aku naiki sekarang. Dengan memakai elevator aku pun naik ke atas menara. Di sini ada orang-orang yang melihat pemandangan Tokyo dari atas. Sebagian memakai teleskop yang memang tersedia di atas menara.

Rasa lelah pun sudah menyelimutiku. Aku lalu duduk di sebuah bangku. Hari itu aku ditemani matahari yang terik. Di bulan ini matahari tenggelamnya agak malam. Makanya sudah jam setengah lima matahari masih tinggi saja.

TRING! TRING!

AkuAkun Skype-ku berbunyi. Aku melihat siapa yang menghubungiku. Ayah?? Aduh… celaka. Aku bingung harus mengangkatnya atau tidak. Aku harus mengangkatnya paling tidak aku tidak ingin beliau khawatir. Akhirnya aku menerimanya.

A-ayah? sapaku.

FAHMI!? bentak ayahku. Aku tidak pernah menyangka dia semarah ini. Apa yang kamu lakukan? Kamu tahu kami sangat mengkhawatirkanmu? Kamu ini benar-benar bikin susah orang tua. Pergi ke negeri orang tanpa memberitahu kami. Kamu itu maunya apa sebenarnya? Pulang sekarang! Ayah sama bunda sampai menyusul ke Tokyo.

A-ayah, maaf, kataku.

Kamu sekarang ada di mana? Ayah mau susul, katanya.

Eh, ti..tidak usah, aku akan ke tempat ayah, kataku.

Memangnya kamu tahu Tokyo? Memangnya kamu tahu?

I-tu….., aku menghela nafas. Ayah benar, aku tak tahu tentang Tokyo.

Kamu ada di mana?

Aku ada di Tokyo Tower. Tapi…aku belum ingin bertemu dengan ayah, ijinkan aku beberapa waktu lagi. Aku ingin bertemu dengan seseorang.

Siapa?

Kumohon ayah, sekali saja. Ijinkanlah aku. Ini sangat penting. Setelah aku siap. Aku akan menghubungi ayah. Pliisss… ijinkan aku di sini dulu. Sampai urusanku selesai. Setelah itu aku akan menurut.

Baiklah, sekali ini. Dan setelah itu aku ingin kamu menurut, kamu tidak boleh membantah!

Iya, jawabku dengan lesu. Maafkan aku ayah.

Ini bunda mau ngomong, kata ayah.

FAHMI!? Kamu nggak apa-apa nak? Kamu nggak kenapa-napa? aku mendengar suara wanita yang sudah akrab aku dengarkan itu. Itu suara ibuku.

I-iya bund, aku nggak kenapa-napa koq, jawabku.

Kamu itu lho, koq ya bikin ayah sama bunda khawatir. Untung Nurul ngasih tahu setelah kami paksa. Kamu itu benar-benar bikin susah orang tua. Udah kuliah belum beres, malah pergi ke sini tanpa ijin.

Maaf, sekali lagi aku bilang maaf.

Ayahmu akan menjemputmu, kamu harus ke sini. Kami ada di Tokyo sekarang, kata ibu.

Baiklah, ayah akan menunggumu sampai urusanmu selesai, tapi selesai nggak selesai ayah akan ke sana jam 7 nanti. Jangan kemana-mana! kata ayah.

Iya ayah. Maaf, kataku lagi. Setelah itu ayah memutuskan koneksinya.

Aku menghela nafas. Rasanya berat sekali. Berat. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kedua orang tuaku sampai menyusul ke sini. Rasanya semua beban yang ada di dunia ada di pundakku. Aku tetap menunggu Keiko-chan, menunggu dan menunggu di menara Tokyo.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.