Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 62

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 62by on.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 62My HEROINE [by Arczre] – Part 62 BAB XX: LOVE, HOPELESS AND DESPAIR #PoV Narator# Kronos sekarang mulai menyerang. Dia mulai membalas. Apapun yang ada di depannya sekarang dihancurkan. Tangannya mengeluarkan kepulan asap hitam. Apapun diraihnya. Gedung-gedung pencakar langit di Jakarta mulai dia hancurkan. Tangannya mengepal dari tubuhnya kemudian muncul cahaya. Ternyata cahaya itu memancar […]

tumblr_mxw4pluZTL1s9a18zo3_500 tumblr_mxw4pluZTL1s9a18zo4_500 tumblr_mxw4pluZTL1s9a18zo5_500My HEROINE [by Arczre] – Part 62

BAB XX: LOVE, HOPELESS AND DESPAIR

#PoV Narator#

Kronos sekarang mulai menyerang. Dia mulai membalas. Apapun yang ada di depannya sekarang dihancurkan. Tangannya mengeluarkan kepulan asap hitam. Apapun diraihnya. Gedung-gedung pencakar langit di Jakarta mulai dia hancurkan. Tangannya mengepal dari tubuhnya kemudian muncul cahaya. Ternyata cahaya itu memancar seperti sonar dan menyebar ke segala penjuru.

Semua orang yang saat itu sedang berada di dekat tempat itu terhempas karena pancaran sonar itu. Gelombangnya menggetarkan apapun sampai-sampai kaca-kaca gedung pecah semuanya. Dari telapak tangan Kronos muncul api yang kemudian membakar segalanya.

Saat itu dari kejauhan tampak seorang wanita melaju dengan indahnya seperti naik sebuah papan ski mendekat ke Kronos. Dia adalah Lane. Dari kedua tangannya muncul cahaya berwarna putih, kemudian dia menembak Kronos dengan cahaya putih itu yang ternyata itu adalah Es. Api-api itu dipadamkan oleh esnya. Lane bertarung melawan Kronos sendirian.

Kronos yang sebesar itu kemudian menyemburkan apinya yang besarnya seperti semburan lahar gunung api yang meletus. Lane dengan kekuatan esnya pun berusaha membendungnya. Akhirnya benturan kekuatan es dan api membuat air terjun panas dari akibat dari benturan api dan es.

“Aaarrrggghh! Kuat sekali!” seru Lane. Dia kemudian menembak-nembakkan es dari tangannya sehingga membentuk seperti sebuah tembok es raksasa yang bentuknya seperti mengurung Kronos. Tapi Kronos dengan mudah bisa menghancurkannya.

Dari kejauhan tampak Finix sedang mengamati pertarungan antara Lane dan Kronos.

“Tidak mungkin, bagaimana aku bisa mengalahkan monster ini??? Dia punya kekuatan api!” gumamnya. “Aku punya kekuatan api, listrik juga sih. Tapi serangan yang sedahsyat itu tak mempan buat dia. Arrgggghhh….aku tak bisa berbuat apa-apa!”

“Jangan menyerah!” ujar suara di codec semua orang. Itu suara Han-Jeong. “Kita harus kuat, kita harus terus mencoba”

“Coba deh, siapa gitu suruh ngundan Zeus ke sini buat ngalahin bapaknya,” ujar Xander.

“Hei guys, ini bukan jaman mithology lagi. There is no gods. Udah nggak jaman lagi dewa-dewa,” kata Hana. “Satu-satunya cara adalah kita serang dari dalam tubuhnya. Tapi siapa yang bisa masuk ke sana?”

“Mulutnya membuka hanya ketika mengeluarkan api,” kata Gump Girl. “Tapi bagaimana caranya untuk bisa masuk ke sana? Andai aku bisa terbang dan tahan terhadap api itu.”

“Tahan api? Finix!? Kamu bisa!” kata Xander.

“Kau gila? Itu bukan sekedar api biasa. Itu ada campuran magma!” kata Finix. “Panasnya melebihi apiku sendiri.”

“Gnome-X, Black Knight?! Kalian bisa tahan api itu bukan?” tanya Hana.

“Tidak pernah dicoba,” kata Yuda. Dia masih terbaring sambil mendekap Han-Jeong di bawah reruntuhan jalan layang.

“Ryu-kun? Bagaimana denganmu?” tanya Hana.

“Aku saja menahan Gnome Blade armorku hancur. Sepertinya aku pass,” jawab Ryu.

“Aku Rex, aku bisa membuat perisai dari berlian, tapi…. aku belum pernah mencoba untuk melindungi tubuh seseorang,” kata Rex.

“Apakah satu-satunya yang bisa mengalahkan dia hanya Zeus??” gumam Gump Girl.

“Bisa nggak sih kita lemparin aja sesuatu ke mulutnya?” tanya Dark Shadow. “Kalau kalian butuh itu, aku bisa memberikannya. Aku akan tembakkan panahku ke mulutnya.”

“Aku juga bisa tembak mulutnya dengan sniperku,” ujar Eagle.

“Tapi lihatlah, setiap mulutnya terbuka, yang keluar adalah magma dan api,” kata Gump Girl.

“Siapa yang sedang bertarung melawan Kronos?” tanya Finix.

“Dia tak ikut briefing, makanya dia nggak bawa codec. Dia namanya Lane atau siapa,” jawab Xander. “Dia ngeri, matanya dingin banget. Not my type.”

“Yuda, ini Ai,” kata Ai di M-Tech portable milik Yuda.

“Iya Ai?” tanya Yuda. “Kamu menemukan kelemahannya?”

“Tubuh Kronos terdiri dari berbagai bahan metal alloy yang tidak ada di bumi. Unsur-unsurnya boleh dibilang dari besi, carbon dan vibranium,” kata Ai.

“Vibranium? Jangan bercanda!” kata Hana. “Bagaimana Vibranium bisa ada? Oh aku lupa dia katanya Dewa.”

“Ya, begitulah. Lapisan kulitnya ada Vibranium pekat level 3 disebut juga statik Vibranium, itu yang mengakibatkan serangan seperti apapun tak akan mempan. Permasalahan kenapa dia bisa bergerak itu karena energi panas di dalam tubuhnya yang sangat kuat untuk melumerkan Vibranium sekeras apapun. Maka dari itulah dia tak terkalahkan kalau dari luar. Satu-satunya cara untuk mengalahkan dia adalah menyerangnya dari bagian tubuhnya yang lunak, yaitu di dalam tubuhnya,” jelas Ai.

“Di sini Alice, kekuatan Kronos terdiri dari elemen api dan magma. Selain itu dia juga bisa mengeluarkan energi seperti laser beam yang mampu menghancurkan apapun. Kelemahannya satu-satunya adalah menghancurkan Kronos dari dalam tubuhnya, sesimpel itu tapi tak mudah,” ujar Alice.

“Suhunya mencapai seribu derajat celcius. Armor Gnome-X sanggup menahannya, walaupun tak lama. Armor Black Knight juga sanggup,” kata Ai.

“Tapi kami kehabisan energi,” kata Yuda.

“Profesor telah memperbarui The Box. Kita hanya mendiamkannya sejenak untuk mengisi kembali energinya,” ujar Han-Jeong.

“Oh ya, beliau pernah bilang seperti itu,” kata Yuda. (baca BAB XII).

“Masalahnya adalah kita tinggal menunggu berapa lama?” kata Han-Jeong.

“Profesor, berapa lama kita harus menunggu agar energi The Box kembali?” tanya Yuda.

“Tiga puluh menit untuk recharge sepenuhnya,” ujar Profesor Andy.

Sementara itu Yuda dan Han-Jeong berada di dalam reruntuhan tanpa bisa bergerak sedikit pun. Tentu saja karena mereka terkubur di bawah puing-puing jalan layang yang baru saja mereka hancurkan karena benturan keduanya setelah terlempar dari serangan mereka kepada Kronos.

“Semoga saja kita bisa bertahan selama tiga puluh menit,” kata Yuda.

Di dalam kegelapan reruntuhan itu, Yuda dan Han-Jeong tak bisa melihat. Tapi mereka bisa merasakan nafas mereka, detak jantung keduanya pun sampai terdengar. Yuda membelai rambut Han-Jeong. Walaupun berada di dalam keadaan seperti ini, keduanya masih ingin menunjukkan rasa sayang mereka.

“Kita akan bersama selamanya Yud,” bisik Han-Jeong.

“Ya, aku tak akan melepaskanmu. Kita berjuang sampai akhir,” bisik Yuda.

“Oh Yud, aku sangat mencintaimu,” kata Han-Jeong. Dia kemudian beringsut mencium bibir kekasihnya. Mungkin boleh dibilang ia ingin memberikan ciuman terakhir kepada Yuda. Menunggu tiga puluh menit di bawah reruntuhan ini tidaklah hal yang mudah. Namun dengan ditemani oleh orang yang dicintai semuanya terasa berbeda. Terlebih ketika ciuman yang dirasakan oleh keduanya pahit karena bibir keduanya terkena debu yang melekat di kedua bibir mereka. Tapi rasanya tetap manis.

Sementara itu Devita yang berada di sebuah tempat tak jauh dari area pertempuran bersama agen-agen BIN lainnya hanya bisa menghela nafas. Apa yang diusahakannya ternyata sia-sia belaka. Kronos sangat kuat. Satellite Cannon saja tak bisa menembusnya.

“Butuh berapa lama lagi untuk merecharge?” tanya Devita.

“Butuh lima belas menit lagi. Tapi kamu yakin?” jawab salah seorang agen.

“Kesempatan kita hanya ini. Satu-satunya cara yang paling baik yang kita punya adalah ini,” ujar Devita. “Kalian ada cara yang lebih baik dari ini silakan!”

Semuanya terdiam. Memang Satellite Cannon ini adalah cara yang terbaik. Tapi tetap saja apakah bisa menumbangkan Kronos? Kronos benar-benar sangat kuat.

Beberapa mil tak jauh dari situ beberapa orang elemental tampak sudah bersiap untuk menyerang Kronos. Mereka masih melihat bagaimana Lane berjuang sendirian melawan Kronos dengan kekuatan esnya.

“Kita tak bisa menyerang dia tanpa kombinasi. Aku bisa menggabungkan kekuatanku menjadi reverse, Dan Alex, kamu bisa melakukannya dengan Tim yang punya elemen air kalian bisa membentuk blizard,” kata Andre.

“Kita coba, walaupun tak tahu apakah akan berhasil,” ujar Alex.

“Siap??” tanya Andre.

“Siap,” jawab Alex.

“Siap,” jawab Tim.

“Aku ngikut aja deh,” kata Puri.

Andre menyatukan kekuatan gelang Joltnya. Dari dalam tanah ia memangil seluruh elemen air. Tak perlu khawatir tentang air, di Indonesia ini air melimpah. Kalau untuk mendatangkan air sebesar badannya Kronos tak ada masalah. Dia bisa melakukannya apalagi kalau sekedar elemen tanah. Tanpa basa-basi dari dalam tanah pun muncul akar-akar yang memanjang, saling melilit, saling menyatu dan kemudian membentuk makhluk besar raksasa yang bisa bergerak. Seekor naga dengan badan yang besarnya sebesar gedung pencakar langit.

Kronos menoleh ke arah naga yang terbuat dari akar-akar pohon itu. Dia menyemburkan apinya untuk membakar naga buatan itu. Namun Andre tak kalah cerdik. Dia membuat tiruan naga yang lain. Sekarang berusaha melilit di kaki Kronos. Akar-akar pohon itu terus bergerak dan melilit Kronos. Hingga akhirnya ular kayu itu pun melilit Kronos dengan sempurna. Kronos dengan tangannya yang besar berusaha mengurai ular besar itu. Dia mencengkram ular dari pohon itu kemudian membuangnya. Namun lagi-lagi muncul ular yang baru. Kesempatan itu digunakan Lane untuk menyerang Kronos dengan esnya.

“Ten-Rei!” seru seseorang. Dia adalah Rina Takeda sang Kunoichi. Saat ini dengan lincah ia bergerak di antara tubuh naga pohon dengan kecepatan yang luar biasa untuk menuju ke Kronos. Tubuhnya bersinar dengan kilatan-kilatan listrik. Sang Kunoichi lalu menyerang Kronos dengan telapak tangannya.

ZRRTT! ZRRTTT!

Dua kali petir menyambar di tubuh Kronos. Tubuh Rina meloncat-loncat seperti belalang di antara sambaran-sambaran tangan Kronos yang menghalau naga buatan Andre. Dari bawah, tiba-tiba ada kristal-kristal yang lebih bisa disebut tombak es berusaha menghujam tubuh Kronos. Bahkan seperti mengurungnya.

“Andre, lilit kedua tangannya!” seru Alex.

Sang ular pohon pun kemudian berusaha melilit lengan Kronos. Kronos agak kesulitan bergerak karena begitu tebalnya akar pohon yang melilitnya. Saat itu tak bisa disia-siakan oleh Alex dan Tim. Dengan kombinasi elemen angin dan air mereka pun menyerang lengan Kronos dengan tombak-tombak es besar. Lane juga ikut ambil bagian dia menyerang lengan kiri Kronos. Rina Takeda pun kemudian terjun ke lengan Kronos sebelah kanan. Dia majukan kedua telapak tangannya hingga kilatan petir besar menghantam lengan Kronos.

Dari arah lain tiba-tiba ada bola cahaya energi yang kemudian menghantam lengan kanan Kronos. Itu Redtails. Dia masih bisa bertarung rupanya. Dengan serangan-serangan ini, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Kedua lengan itu putus. Ketika jatuh suaranya bedebum dan keras.

“Hah? Lengannya putus!” seru Lane.

“Yess…lengannya putus!” seru Alex. “Tapi….bagaimana bisa?”

Kejutan itu membuat semuanya heboh. Devita juga sepertinya baru kali ini melihat lengannya monster itu putus.

“Wow, ini kejutan. Lengannya putus,” seru Devita.

Semuanya keheranan. Mereka tak percaya bisa memutuskan lengan Kronos.

“Somebody please tell me why?” kata Kolonel Reditya.

“Akar pohon!” seru Profesor Andy di codec. “Akar pohon itu memakan tubuh Kronos. Siapa yang mengeluarkannya?”

“Aku, Andre,” jawab Andre dengan codecnya.

“Itu kelemahan Kronos. Kronos menurut legenda adalah anak dari Uranus dan Gaia. Gaia ada unsur elemen bumi, sedangkan tanaman tidak bisa tumbuh tanpa unsur bumi. Sedangkan yang ada di tubuhnya adalah sebuah mineral padat dari vulkanik, bukankah abu vulkanik adalah makanan yang sangat bergizi bagi tanaman?” kata Hana.

“Kamu benar sayangku! Kamu cerdas!” seru Devita.

“Makasih ma,” kata Hana sambil tersipu-sipu.

“Oke, Andre. Terus tumbuhkan monster tanaman itu ditubuhnya, kita akan potong-potong Kronos ini,” kata Redtails.

“Baiklah. Reverse!” seru Andre.

Lagi. Tanaman-tanaman tumbuh. Kali ini makin merambat makin membelit Kronos. Kronos yang sudah kehilangan lengannya sekarang seperti monster buntung yang tak bisa berbuat apa-apa. Makin lama ular raksasa yang tubuhnya terbuat dari akar-akar pohon itu makin banyak dan membelit Kronos.

“MANUSIA KALIAN SEMUA AKAN BINASA. APA KALIAN ANGGAP DENGAN BEGINI AKU AKAN KALAH??!”

“Gungnir siap, anak-anak menyingkir!” seru Devita.

Seketika itu semua orang menjauh dari area pertempuran. Rina Takeda segera menyingkir, diikuti oleh Lane dan Redtails. Superhero yang lainnya pun menyingkir, karena sekarang di atas sana ada Satellit Cannon yang sudah mengarahkan moncongnya ke Kronos. Kali ini dengan penuh percaya diri semua orang yakin bahwa kali ini Kronos bisa dihancurkan.

“Sebentar lagi kami akan menghancurkanmu. Ada permohonan terakhir?” tanya Redtails.

Kronos yang tak bisa bergerak karena lilitan akar dan pohon itu menderum, “ADA ALASAN KENAPA AKU MEMAKAI WUJUD SEPERTI INI. APA KALIAN TAK TAHU MIMPI BURUK YANG AKAN KALIAN HADAPI? AKU BELUM KALAH.”

“Apa maksudmu?” tanya Lane. Dia mengeluarkan tombak-tombak es raksasa lagi dan menghujam ke kaki Kronos. Kali ini kakinya sang dewa kehancuran itu putus. Semua orang bersorak gembira. Mereka mengira telah berhasil. Tentu saja dengan perkembangan ini mereka semua belum tahu mimpi buruk yang akan mereka hadapi. Mimpi buruk yang sebenarnya.

“5….4…3….2….1! Tembaak!” seru Devita.

BBLLLLLAAAAAAAAAAAAAAAAAARRR! SHOOOOOOTTTTTT BUUUUUUMMMMMMMM! DDUUUUAARRR!”

Lagi-lagi tembakan Satellit Cannon menghantam Kronos. Getarannya membuat semua yang ada di Jakarta dan sekitarnya bergetar. Lagi-lagi ledakan besar itu menghempaskan apapun yang ada. Semua para superhero dan TNI berlindung dari efek ledakannya yang dahsyat. Namun dibalik ledakan itu, justru Kronos tertawa.

“KHUKHUKHUKHUKHUKHUKHUKHUKHUKHU!”

“Kenapa? Kenapa dia tertawa? Kenapa?” tanya Ryu. “Ada yang aneh.”

Sementara dia bertanya-tanya kepulan debu dari efek ledakan itu menutupi kota Jakarta. Semua orang menanti apakah serangan tadi berhasil ataukah tidak. Yuda dan Han-Jeong pun juga bisa merasakan getaran ledakan yang terjadi di atas. Mereka juga berharap-harap cemas akan hasil dari serangan ini.

“Kukira, Kronos yang kita hadapi ini bukan wujud aslinya,” kata Ai, artificial intelegence Gnome-X.

“Jelaskan kepadaku Ai,” kata Yuda.

“Kronos yang kita hadapi ini, kemungkinan besar memakai pelindung. Yang coba kita hancurkan tadi adalah armornya yang memang terbuat dari bebatuan dan magma yang keras. Aku rasa itu wajar karena dia terkurung di inti bumi. Dia pasti membutuhkan sesuatu untuk melindungi tubuhnya bukan? Maka dari itu apa yang kita hadapi sekarang adalah baru wujud yang sebenarnya,” jelas Ai.

“Dataku juga menunjukkan perkiraan yang sama,” kata Alice, artificial intelegence Black Knight.

“Hah? Jadi? Yang kita hadapi setelah ini….?” gumam Han-Jeong.

“Baru Kronos yang sebenarnya,” kata Alice.

“Kita sudah habis-habisan menyerang dia dan sekarang baru berhadapan dengan aslinya?” protes Yuda.

“Kalian dengar itu? Ini belum berakhir!” kata Han-Jeong membroadcast apa yang disampaikan oleh Alice.

Devita, seakan tak percaya apa yang dikatakan kecerdasan buatan di baju keponakannya itu. “Aku tak percaya. Alice pasti sedang rusak. Kita baru saja menghantamnya dengan kekuatan Gungnir!”

“Ya, kita sudah habis-habisan menyerang dia. Bagaimana mungkin kita sama sekali belum melawannya? Ini mustahil!” kata Redtails.

“Kalau itu benar, kita benar-benar celaka. Tak ada lagi kekuatan untuk mengalahkan dia,” kata Kolonel Reditya. “Periksa senjata kalian. Pesawat yang masih punya misil bersiap untuk menyerang. Setelah ini kita akan serang lagi!”

“Kolonel, beberapa tank sudah kehabisan peluru meriam. Pesawat yang masih punya misil hanya tiga,” kata Flavus.

“Jangan lupakan kami yang ada di laut Kolonel!” seru seseorang lewat radio.

“Siapa ini?” tanya Kolonel Reditya.

“KRI Yos Sudarso, Letnan Caesar di sini,” katanya di radio.

“Letnan Caesar?”

“Kami marinir yang ada di laut siap menembakkan meriam kami ke Jakarta. Koordinat sudah kami pasang. Tinggal menunggu perintah Anda untuk menembak,” kata Letnan Caesar.

“Tunggu apalagi? Sebelum dia hidup lagi, serang saja sekarang!” kata Kolonel Reditya.

“Siap!”

Beberapa Kapal tempur milik TNI AL sekarang merapat ke pinggir pantai Utara Kota Jakarta. Semuanya mengarahkan moncong meriam dan rudalnya ke arah sang dewa Kronos. Kemudian secara bersamaan semua kapal tempur itu pun memuntahkan peluru-peluru meriam dan rudal-rudal mereka ke arah Kronos. Bagaikan kembang api seluruh peluru-peluru itu menghantam tubuh Kronos yang masih tertutupi oleh debu yang sangat tebal karena ledakan tadi.

Entah berapa puluh rudal dan meriam yang menghantam tubuh Kronos. Sepertinya semuanya tak ingin Kronos bisa bangkit lagi dan melakukan kehancuran. Namun akhirnya semuanya terjawab sudah ketika dari kepulan debu dan asap itu muncul sosok yang sangat besar. Tapi tubuhnya lebih kurus dari Kronos. Tubuhnya polos, halus, berwarna merah, bertanduk, matanya merah menyala sebuah senyuman tersungging di mulutnya.

Wajahnya dihantam oleh rudal. Tapi dia tak bergeming. Meriam dan rudal itu sama sekali tak melukainya. Inilah wajah Kronos yang sesungguhnya.

“MANUSIA, AKU AKAN BERIKAN KALIAN MIMPI BURUK YANG SEBENARNYA! INILAH WUJUDKU YANG SEBENARNYA”

Jari-jari tangan Kronos dibuka. Ujungnya mengeluarkan sesuatu.

WHUUUZZZZZZZZZ! ZZZOOOMM! ZZZOOOMM! ZZZOOOMM! ZZZOOOMM! ZZZOOOMM! ZZZOOOMM! ZZZOOOMM! ZZZOOOMM! BLAR! BLAR! BLAR! BLAR! BLAR! KBOM KBOM KBOOOOMM!

Dari ujung jemari Kronos muncul sesuatu seperti Pedang Beam milik Gnome-X. Tembakannya sangat cepat seperti sinar laser. Ledakan-ledakan mengikuti ke tempat di mana laser besar itu menghantam di mana dia mendarat. Api mulai berkobar di seluruh tempat yang dihinggapi oleh laser raksasa itu. Bahkan gedung-gedung yang terkena serangan itu dibelah seperti kue ulang tahun yang dibelah oleh pisau pemotong kue.

“Ini gila, apapun yang terjadi kalian harus menghindar dari laser itu!” seru Redtails.

Silver Crow terbang menghindari laser-laser yang ditembakkan oleh Kronos. Tapi….ZRRAASSHH! tangannya terkena hingga terputus.

“AAAAARrrrgghh!” Silver Crow menjerit hingga kemudian jatuh ke tanah dengan bedebum. Ia mengerang meraba tangan kirinya yang kini sudah putus. Darah mengalir dari tempat ia terluka.

“Silver Crow, kamu tak apa-apa?” tanya Rex yang melihat dia jatuh tadi.

“Lenganku….aaarrghh!” jerit Silver Crow.

“DAN KALIAN KAPAL-KAPAL YANG MENYERANGKU, TAK KEBERATAN BUKAN KALAU KALIAN AKU MUSNAHKAN?”

Kronos menghadap ke utara. Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Dia menghentikan serangan laser dari jari-jarinya. Kini mulutnya sedikit demi sedikit terbuka. Makin lama mulutnya makin terbuka lebar. Dia benar-benar seperti monster.

“DENGAN MULUT INILAH AKU MENELAN ANAK-ANAKKU. TAPI AKU TIDAK AKAN MENELAN KALIAN SEMUA, AKU AKAN MEMUSNAHKAN KALIAN SEMUA!”

Sang dewa penghancur pun kemudian menggembungkan dadanya. Semua udara seperti terhisap ke tubuhnya yang polos itu. Dadanya makin menggembung dan membesar seperti gunung. Kolonel Reditya yang menyadari keadaan ini ia segera mengambil radio.

“Kalian yang ada di laut. Menyingkir dari sana!” teriak Kolonel Reditya.

“Kolonel. Sudah terlambat!” kata Jendral Robi.

“Kalian semua bersiaplah!” seru Letnan Caesar. “Tuhan maafkan kami.”

“GGHHHRRRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAASSHH HHH!”

Dari mulut Kronos keluar energi seperti meriam beam yang diameternya sebesar gedung dan menghantam lurus ke arah utara. Tepat ke arah kapal-kapal TNI AL yang tadi menembakinya. Seluruh kapal-kapal itu berikut Jakarta utara terkena serangan itu. Tembok yang dulu dibuat oleh Andre dan Puri pun kini jebol akibatnya air laut pun merembes ke daratan. Tembakan dari mulut Kronos itu terus dan terus memanjang hingga sampai ke kepulauan seribu. Serangannya menghantam pulau-pulau di tempat itu, seperti dihantam oleh ledakan nuklir menerbangkan pohon-pohon yang tumbuh di sana.

Hanya sepuluh detik. Tapi sepuluh detik itu sudah meratakan Jakarta Utara. Semua orang terbelalak. Mereka semua sepertinya sudah menyerah, tak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk mengalahkan monster ini. Kekuatannya mengerikan tak ada yang bisa mengalahkan Kronos, tak ada yang bisa.

Redtails saat itu yang tepat berada di depan Kronos berusaha menahan serangan Kronos itu dengan aura terakhirnya. Hentakan kekuatan itu pun tepat mengenainya. Entah apa yang terjadi dengannya setelah itu. Yang jelas tak ada lagi yang bisa dilihat di kota Jakarta bagian utara. Karena semuanya rata karena semburan energi dari mulut Kronos.

Dunia terhenyak, kekuatan Kronos yang mengerikan telah membuat semuanya putus asa. Akankah manusia harus menjadi budak Kronos sekarang?

“Apa yang terjadi?” tanya Yuda.

“Jakarta Utara rata dengan tanah,” kata Devita.

“Apa?!”

Han-Jeong tampak bersedih. Kota yang ia tinggali sekarang ini benar-benar hancur. “Apa yang harus kita lakukan?”

“Ai, kapan selesai mengisi tenaganya?” tanya Yuda.

“Sebentar lagi,” kata Ai.

“Han-Jeong, kita harus mengalahkannya,” kata Yuda.

“Iya, aku akan berjuang bersamamu,” kata Han-Jeong.

“Ryu-kun! Bersiaplah!” kata Yuda. “Kita bersatu maka kita akan kuat. Jangan menyerah!”

“Bokuwa, akiramenaide!” kata Ryu. “Aku tak akan menyerah.”

Di antara perasaan putus asa, ada tiga pemuda yang mereka siap untuk menyerang. Detik-detik kemudian The Box sudah terisi penuh. Ketiganya berubah menjadi superhero.

Gnome Change

Black Knight Change

Zero Change

Pertarungan kini mencapai klimaks.

(bersambung).

Author: 

Related Posts

Comments are closed.